عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: تعوذوا بالله من جهد البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الأعداء. متفق عليه.
Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, : “Berlindunglah kepada Alloh dari musibah yang berat, mendapet kesengsaraan, takdir yang buruk, dan gembiranya musuh (dengan musibah yang menimpa seseorang).” (Muttafaq ‘alaih)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarh Riyádhis Shálihín:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berlindung pada empat hal:
Perihal Pertama
Musibah yang berat, yaitu musibah yang menghabiskan upaya atau tenaga. Musibah ada dua jenis: musibah pada badan, seperti penyakit-penyakit dan musibah maknawi, yaitu seseorang dapat musibah dengan orang yang bermulut besar, ia menyebarkan aib-aibnya, menyembunyikan kebaikannya, dan semisalnya. Ini musibah yang memberatkan seseorang. Terkadang musibah ini lebih berat bagi seseorang daripada musibah badan. Sehingga seseorang berlindung kepada Allah azza wa jalla dari musibah yang berat ini.
Adapun musibah badan maka perkaranya jelas, (yaitu) penyakit-penyakit pada badan; sakit perut, sakit pada dada, pada kepala, pada leher, dan pada tempat-tempat di badan. Ini termasuk musibah, terkadang termasuk musibah jenis ketiga.
Yaitu musibah besar yang Allah azza wa jalla timpakan pada seorang hamba.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلى حَرْفٍ فَإِنْ أَصابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلى وَجْهِهِ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka bila memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan bila ia ditimpa oleh suatu fitnah (musibah), ia berbalik ke belakang.” (QS Al Hajj:11)
Bila ia mendapat kebaikan, kenyamanan, dan ketenangan maka ia tuma’ninah. Bila ia tertimpa musibah agama atau musibah dunia maka ia berbalik. Kamu mendapati keimanannya, misalnya ia labil sebab syubhat yang paling kecil yang sampai kepadanya sehingga ia berpaling dari kebenaran.
Kamu mendapatinya tidak sabar dengan musibah yang paling kecil yang menimpanya sehingga ia berpaling dari kebenaran dan ia marah dengan takdir Allah. Kadang masuk ke dalam hatinya perkara-perkara yang tidak pantas bagi Allah azza wa jalla karena musibah ini.
Perihal Kedua
Dari mendapat syaqa’ (kesengsaraan), yaitu kamu mendapati kesengsaan. Sengsara kebalikan dari bahagia. Bahagia sebabnya amal shalih. Sengsara sebabnya amal buruk. Apabila kamu meminta perlindungan kepada Allah azza wa jalla dari mendapat kesengsaraan, maka ini mengandung doa agar kamu tidak mengerjakan amalan orang-orang yang sengsara.
Perihal Ketiga
Dari takdir yang buruk. Takdir yang buruk mengandung dua makna: Makna awal: Aku memutuskan hukum dengan buruk. Makna kedua: Allah menetapkan bagi seseorang, takdir yang memburukkannya.
Qadha’ yang bermakna hukum, yaitu seseorang kadang menghukumi dengan hawa nafsu, terburu-buru dalam perkara-perkara tersebut dan tidak pelan-pelan, serta labil. Ini adalah hukum yang buruk.
Demikian pula takdir dari Allah azza wa jalla. Kadang Allah azza wa jalla menetapkan takdir bagi seseorang dengan takdir yang memburukkannya dan menyedihkannya. Maka kamu meminta pertolongan kepada Allah azza wa jalla dari takdir yang buruk.
Perihal Keempat
Dari gembiranya musuh (dengan musibah yang menimpa seseorang). الأعداء adalah bentuk jamak dari عدو (musuh). Para fuqaha’ menyebutkan makna musuh, mereka berkata: Orang yang senang dengan keburukan yang menimpa seseorang, atau menyedihkannya kebahagiaan orang tersebut maka ia adalah musuhnya. Semua orang yang menyenangkan mereka terkait musibah yang menimpamu maka ia adalah musuhmu.
Gembiranya musuh, yaitu musuhmu bergembira atas musibah yang menimpamu.
Musuh tidak diragukan, ia akan gembira dengan setiap musibah yang menimpa seseorang dan ia akan sedih dengan kebaikan yang menimpa orang tersebut. Maka kamu memohon perlindungan kepada Allah azza wa jalla dari gembiranya musuh (terhadap musibah yang menimpamu).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berlindung kepada Allah dari empat perkara ini. Selayaknya bagi seseorang untuk melaksanakan perintah Rasulullah dan ia berlindung kepada Allah dari empat perkara tersebut. Semoga Allah mengabulkannya, dan semoga Allah azza wa jalla yang memberi taufik.
اللّهُمَّ إنَّا نعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
✍🏻 Rohmatulloh Ngimaduddin, Lc
Alumni Universitas Islam Madinah |Pengajar PPI Muharrikun Najaah Klaten